Negara-negara yang Paling Menyeramkan Bagi Kaum Hawa

Bertanya soal negara mana yang paling menyenangkan bagi peremupuan tentu biasa. Namun, bila pertanyaan itu dibalik, sudah dipastikan akan mendapatkan jawaban berbeda dan emosional.

Sebuah riset yang dipublikasikan aktivis perempuan sedunia, Rabu (15/6) kemarin, menyebutkan, Afganistan, India dan Pakistan merupakan negara paling menyeramkan bagi perempuan. Meski demikian, para aktivis perempuan menemukan secercah harapan akan perbaikan yang merujuk pada kesadaran masyarakat dari ketiga negara untuk mengakui hak-hak perempuan.

“Jika anda melihat film-film Bollywood dan majalah mode dari kedua negara (Pakistan dan India), anda tidak akan percaya bahwa ada perempuan lain dikurung dalam rumah atau mobilitas mereka sangat dibatasi,” kata Simi Kamal, Kepala Program Kesetaraan Gender, Aurat Fondation, yang berkantor di Islamabad, seperti dikutip CSmonitor, Jum’at (17/6).

Berbicara soal Afganistan, para pakar sepakat, ada kemajuan berarti dari isu-isu perempuan di Afganistan selama 10 tahun terakhir. Mereka melihat perempuan Afganistan semakin berperan dalam politik. Akan tetapi Afganistan masih memperoleh rapor merah dalam hal pelanggaran hak asasi seperti perkawinan paksa dan perdagangan manusia.

“Pemerintah kami tidak dapat memberikan hak perempuan. Dan perempuan bahkan tidak memiliki akses ke hak-hak yang Allah berikan mereka dalam hukum syariah kami [Islam],” ujar Lal Lal Gul, ketua Organisasi Hak Asasi Manusia Afghanistan.

Rapor merah lain, kekacauan infrastruktur akibat perang berkepanjangan mengakibatkan satu dari 11 wanita meninggal saat melahirkan dan 87 persen perempuan buta huruf. “Jika mereka menghentikan perang, uang bisa pergi untuk membuat rumah sakit dan memberikan pendidikan kepada perempuan. Anak-anak kita tumbuh di jalanan karena perang bodoh itu,” ketus Fatana Gailani Ishaq, pendiri dan ketua Dewan Perempuan Afghanistan di Kabul.

Di India dan Pakistan, kondisi perempuan jauh lebih baik. Ini karena, isu-isu perempuan telah memasuki wacana publik. Persoalan yang dihadapi Pakistan soal isu perempuan adalah kekerasan, pelecehan dan kawin paksa.

Sementara India, persoalan aborsi, perdagangan dan pernikahan dengan anak tidak terdaftar menjadi masalah terbesar. Akibatnya negeri Mahatma Gandhi menjadi negara paling menyeramkan bagi perempuan. “Dahulu kami berpikir ruang domestik begitu tertutup oleh hukum,” kata Radhika Chopra, seorang sosiolog di Universitas Delhi.

Meskipun telah ada perbaikan dalam kerangka hukum yang dikembangkan untuk melindungi wanita, aktivis di kedua negara melaporkan bahwa, seperti Afghanistan, mereka dibebankan  persoalan kurang kuatnya penegakan hukum. “Hukum tidak selalu diikuti seperti yang seharusnya, karena ada bias yang ada di polisi, sistem pengadilan, dan organisasi serta konselor yang menangani perempuan,” kata kamal.

Temuan riset merupakan hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh TrustLaw dengan melibatkan 213 pakar. Setiap pakar diminta untuk menentukan peringkat negara dengan melihat persepsi untuk perempuan. Termasuk didalamnya, catatan angka kesehatan, kekerasan seksual, budaya atau agama, akses ke sumber daya dan berdagangan.